Majalah "Prestasi Anak Nusantara"

Tampilkan postingan dengan label WIRAUSAHA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WIRAUSAHA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

ANNE AVANTIE: Pelopor Kebaya Modern



Dari sebuah bisnis penyewaan kostum yang dibangun di garasi depan rumahnya, Anne Avantie berhasil mengembangkan usahanya di bidang desain kebaya. Sebuah kolaborasi sempurna antara usaha menjual ide/pemikiran dengan keseriusan mengembangkan bisnis hingga menghasilkan produk yang sesuai selera konsumen kelas atas. Kini, Anne dikenal sebagai desainer pelopor kebaya modern.

Pada salah satu halaman di akun facebook pribadinya, Anne Avantie menulis, bahwa ia sungguh tak pernah membayangkan akan memiliki nama besar sebagai seorang disainer kebaya papan atas Indonesia. Dua puluh enam tahun lalu, Anne Avantie hanyalah seorang ibu rumah tangga dengan tanpa latar belakang pendidikan mode. Pendidikan formalnya juga tidak tinggi, hanya lulusan SMP. Akan tetapi, bakat seni dan kemampuannya membuat dan merancang baju yang dimiliki sejak kecil, menjadi modal Anne saat memulai peruntungan bisnisnya di bidang persewaan kostum-kostum tari dan kostum adat.

Suatu saat, Anne mencoba membuat show kecil-kecilan di sebuah arena sepatu roda di kampungnya. Tanpa diduga seusai show seorang MC memanggil, “Inilah desainer kita, Anne Avantie.” Rupanya, ucapan sang MC menjadi kenyataan.


Di kemudian hari, Anne benar-benar menjadi seorang disainer kenamaan yang karya-karyanya kerap menjadi andalan para selebritis, pejabat, petinggi negara dan para pesohor negeri ini. Sejumlah selebritis dan para pesohor tercatat menjadi pelanggan setia Anne Avantie seperti pasangan artis Atikah Hasiholan dan suaminya aktor Rio Dewanto, Krisdayanti dan Raul Lemos, Tantri Kotak, pasangan penyanyi Judica Idol dan Duma Riris, pasangan aktor dan aktris Surya Saputra dan Cyntia Lamusu, serta presenter Raffi Ahmad, isterinya Nagita Slavina serta ibunda Raffi, Ami Canita.

Kebanyakan dari mereka mengaku menyukai kebaya rancangan Anne Avantie karena Anne mengerjakannya dengan tingkat keseriusan dan ketelitian yang tinggi sehingga selain nyaman dipakai juga nyaman untuk dilihat. “Kebaya Mbak Anne adalah sebuah kemewahan, mahakarya yang layak untuk dikoleksi,” ujar penyanyi Krisdayanti.


Sebagai desainer, Anne mengaku selalu bekerja dengan sangat serius dan memperhatikan setiap detil rancangannya. Mulai dari proses pemilihan bahan, proses pemotongan kain, proses menjahit dan terutama finishing (pembuatan hiasan dengan payet dan batu-batu). Menurutnya, sedikit saja kesalahan dalam pemasangan detil hiasan dapat merusak tampilannya sehingga mengurangi kepuasan konsumen. Sebaliknya, kebaya yang dikerjakan dengan teliti dan serius akan menghasilnya sebuah produk yang akan terlihat glamour dan mewah sehingga mampu memancarkan daya pikat bagi pemakainya kepada siapa saja yang melihat. “Saya rasa apapun bisnisnya, sebagai pengusaha orientasi kita adalah kepuasan tertinggi konsumen. Karena, tanpa mereka (pelanggan) kita pasti bukan siapa-siapa,” kata Anne.

Jumat, 19 Desember 2014

Batik Lasem: Kembangkan Bisnis “Warisan Dunia”



Pasca pensiun sebagai Kepala Desa, Rifai tak memiliki pekerjaan. Dia menganggur. Saat itulah, dia bertemu maestro batik Lasem, Naomi Susilowati Setiono. Kini, dengan mengusung label “Batik Tulis Ningrat”, nama Rifai dikenal di kalangan pecinta batik tulis Lasem.

Enam tahun lalu, 2008, Rifai hanyalah seorang mantan Kepala Desa (Kades) yang “pengangguran”. Dia menjalani hari-harinya nyaris tanpa kegiatan yang berarti. Sedikitpun tak terlintas dalam pikirannya untuk menekuni usaha batik. Apalagi, karena dia memang tidak memiliki latar belakang tentang usaha perbatikan.

Kemurahan Tuhan-lah yang kemudian mempertemukannya dengan Naomi Susilowati Setiono, pemilik Batik Tulis Laseman “Maranatha”. Kala itu, keinginan Rifai jauh dari kata muluk. Dia hanya ingin berusaha untuk memenuhi kebutuhan nafkah bagi keluarganya.

Pekerjaan sebagai penjual kain batik Lasem pun dilakoninya. Dari hanya menjual selembar kain batik, usaha Rifai perlahan mengalami peningkatan. Dan, melalui Naomi pula Rifai berkesempatan belajar membatik dan membuat desain motif batik. “Kebetulan, saat itu Bu Naomi gencar melakukan pengaderan karena SDM di industri batik Lasem sangat terbatas,” katanya.

Hal itu pula yang mendorong motivasi Rifai untuk serius terjun di dunia batik. Dia mengaku tak ingin hanya sekedar menjadi pedagang. Motivasi yang kuat sejalan dengan semangat untuk maju mendorong Rifai menggali ilmu tentang membatik dari mana saja, bahkan dari para pegawainya. “Umumnya pegawai saya adalah para pembatik mahir yang telah berpengalaman dan pernah bekerja pada pengusaha batik lain,” kata Rifai.

Pamor batik Lasem yang kalah bersaing dengan batik dari daerah lain seperti Pekalongan, Yogyakarta dan Solo membuat banyak pabrik batik di Kecamatan Lasem (Kabupaten Rembang, Jawa Tengah) gulung tikar dan hanya menyisakan para pembatik andal. Para pembatik ini umumnya memperoleh pengetahuan secara turun-temurun. Kebanyakan dari mereka, menjadikan pekerjaan membatik sebagai aktivitas sampingan di luar kegiatan utamanya sebagai petani.



(Lebih lanjut simak di Majalah SINARA edisi cetak No.02/I/2014 November-Desember 2014. Dapatkan di TB Gramedia, TB Gunung Agung, dll. Customer Service: Riwanto Ch. 081317264116; Yoyok W 081312367689).